Kerja Bakti Pembersihan Pantai Membuku di Desa Kadacua, Kec. Kulisusu, Kab. Buton Utara: Serda Abdul Hayat Pimpin Langsung Aksi Peduli Lingkungan
Buton Utara, Sulawesi Tenggara — Dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kelestarian alam, kegiatan kerja bakti pembersihan Pantai Membuku kembali dilaksanakan dengan penuh semangat di Desa Kadacua, Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara. Kegiatan yang berlangsung pada awal Juli 2025 ini dipimpin langsung oleh Serda Abdul Hayat, seorang Babinsa dari Koramil Kulisusu yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
Kegiatan kerja bakti dimulai sejak pukul 07.00 WITA. Terlihat antusiasme warga dari berbagai kalangan, mulai dari pemuda karang taruna, ibu-ibu PKK, pelajar, aparat desa, hingga tokoh masyarakat yang turut hadir dalam aksi ini. Tak ketinggalan pula kehadiran anggota Koramil Kulisusu yang mendampingi langsung jalannya kegiatan.
Serda Abdul Hayat selaku pemimpin lapangan membuka kegiatan dengan apel singkat, menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan, serta membagikan tugas kepada masing-masing kelompok peserta. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keselamatan selama kegiatan berlangsung.
Kegiatan kerja bakti ini menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong yang masih hidup dalam masyarakat pedesaan. Terlihat bagaimana warga dari berbagai usia saling membantu dan bekerja bersama demi terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat.
Kepala Desa Kadacua, Bapak La Ode Amir, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap keterlibatan aktif warga dan dukungan dari Babinsa.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat, serta memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga lingkungan. Harapan besar muncul agar kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat sehari-hari.
Serda Abdul Hayat menegaskan bahwa kerja bakti ini bukanlah akhir, melainkan langkah awal menuju perubahan yang lebih besar.
Dalam kegiatan tersebut, berbagai jenis sampah berhasil dikumpulkan, mulai dari plastik bekas makanan, botol air mineral, kayu, hingga potongan jaring nelayan yang terdampar di bibir pantai. Sampah-sampah ini sebagian besar bukan hanya berasal dari aktivitas masyarakat sekitar, tetapi juga terbawa oleh arus laut dari daerah lain.
Menurut penjelasan Serda Abdul Hayat, sampah plastik yang menumpuk di pantai sangat berbahaya bagi ekosistem laut. Selain mencemari air laut, sampah ini juga mengancam kehidupan biota laut seperti ikan, penyu, dan burung laut yang bisa memakan plastik secara tidak sengaja.
Kegiatan kerja bakti dimulai sejak pukul 07.00 WITA. Terlihat antusiasme warga dari berbagai kalangan, mulai dari pemuda karang taruna, ibu-ibu PKK, pelajar, aparat desa, hingga tokoh masyarakat yang turut hadir dalam aksi ini. Tak ketinggalan pula kehadiran anggota Koramil Kulisusu yang mendampingi langsung jalannya kegiatan.
Serda Abdul Hayat selaku pemimpin lapangan membuka kegiatan dengan apel singkat, menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan, serta membagikan tugas kepada masing-masing kelompok peserta. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keselamatan selama kegiatan berlangsung.
Kegiatan kerja bakti ini menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong yang masih hidup dalam masyarakat pedesaan. Terlihat bagaimana warga dari berbagai usia saling membantu dan bekerja bersama demi terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat.
Kepala Desa Kadacua, Bapak La Ode Amir, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap keterlibatan aktif warga dan dukungan dari Babinsa.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat, serta memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga lingkungan. Harapan besar muncul agar kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat sehari-hari.
Serda Abdul Hayat menegaskan bahwa kerja bakti ini bukanlah akhir, melainkan langkah awal menuju perubahan yang lebih besar.
Dalam kegiatan tersebut, berbagai jenis sampah berhasil dikumpulkan, mulai dari plastik bekas makanan, botol air mineral, kayu, hingga potongan jaring nelayan yang terdampar di bibir pantai. Sampah-sampah ini sebagian besar bukan hanya berasal dari aktivitas masyarakat sekitar, tetapi juga terbawa oleh arus laut dari daerah lain.
Menurut penjelasan Serda Abdul Hayat, sampah plastik yang menumpuk di pantai sangat berbahaya bagi ekosistem laut. Selain mencemari air laut, sampah ini juga mengancam kehidupan biota laut seperti ikan, penyu, dan burung laut yang bisa memakan plastik secara tidak sengaja.
